Cerita

Mendorong Lanskap Komoditas yang Inklusif dan Tangguh Iklim: Pembelajaran dari Implementasi SFITAL di Indonesia dan Filipina

Webinar regional “Advancing Inclusive, Climate-Resilient Commodity Landscapes in Indonesia and the Philippines” yang diselenggarakan pada Rabu, 11 Desember 2025, oleh International Fund for Agricultural Development (IFAD), menjadi ruang berbagi pembelajaran penting dari implementasi program Sustainable Farming in Tropical Asian Landscapes (SFITAL). Kegiatan ini mempertemukan para mitra pembangunan, praktisi lapangan, sektor swasta, dan pembuat kebijakan untuk mendiskusikan bagaimana pendekatan terpadu dapat mendorong pertanian berkelanjutan yang inklusif dan tangguh terhadap perubahan iklim.

Dalam sesi diskusi, para pembicara yang terdiri dari CIFOR-ICRAF dan mitra kunci, yaitu Rainforest Allaince dan MARS, inc., mengulas berbagai praktik kunci program SFITAL, mulai dari pelibatan aktif petani dalam proses pembelajaran dan pengambilan keputusan, pemanfaatan data dan alat berbasis bukti untuk perencanaan tata guna lahan, hingga kolaborasi publik–swasta dalam memperluas adopsi praktik agroekologi. Pendekatan lintas skala—dari tingkat tapak, subnasional, hingga nasional—menjadi ciri utama SFITAL dalam menjawab tantangan implementasi, investasi, akuntabilitas, dan efektivitas intervensi di lapangan.

Penguatan kapasitas muncul sebagai fondasi utama dalam membangun lanskap komoditas yang berkelanjutan. SFITAL secara konsisten menempatkan petani swadaya, perempuan, dan generasi muda sebagai aktor kunci perubahan, melalui berbagai inovasi pembelajaran, kurikulum agroforestri kakao, serta pengembangan ruang kolaborasi multipihak. Upaya ini dinilai krusial untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang sekaligus meningkatkan ketahanan sosial dan ekonomi di tingkat lokal.

Dalam sambutan pengantarnya, Dr. Beria Leimona, Theme Leader, Climate Change, Energy and Low-Carbon Development, CIFOR-ICRAF, mengatakan “Keberhasilan program SFITAL menunjukkan bahwa keberlanjutan dapat dipercepat ketika dukungan publik–swasta, insentif fiskal, dan kerangka hukum dapat berjalan bersama untuk memperkuat ketahanan petani dan adopsi praktik berkelanjutan.”

Selain praktik di lapangan, webinar ini juga menyoroti pentingnya formalisasi peta jalan keberlanjutan melalui regulasi di tingkat kabupaten, serta penerapan skema transfer fiskal berbasis ekologi sebagai instrumen pendanaan inovatif. Kedua pendekatan tersebut membuka peluang nyata untuk memperluas dampak program dan memastikan integrasi keberlanjutan ke dalam sistem perencanaan dan penganggaran pemerintah daerah.

Pendekatan SFITAL dinilai berhasil menjembatani praktik lokal dengan kerangka kebijakan nasional, termasuk mendukung pengembangan peta jalan komoditas berkelanjutan di Indonesia. Lebih dari sekadar proyek jangka waktu tertentu, SFITAL dipandang sebagai investasi pengetahuan, kelembagaan, dan kemitraan yang diharapkan terus berlanjut setelah fase proyek berakhir.

Apresiasi juga datang dari sektor swasta yang terlibat langsung dalam implementasi di lapangan.

“Kami mengapresiasi inovasi penguatan kapasitas petani, khususnya pengembangan kurikulum kakao agroforestri dan pembentukan Pokja kakao yang telah membuka ruang pembelajaran berkelanjutan bagi petani dan seluruh pemangku kepentingan,” ungkapFay Fay Choo, MARS Inc.

Sementara itu, pengalaman menjalankan proyek SFITAL yang dimulai di tengah pandemi COVID-19 menjadi pembelajaran penting. Situasi penuh keterbatasan tersebut justru menegaskan arti strategis kerja sama dan koordinasi yang solid antar lembaga terkait. Melalui komunikasi yang intensif, perencanaan yang terarah, serta komitmen bersama dari seluruh mitra, SFITAL tetap mampu beradaptasi, menjaga keberlangsungan kegiatan, dan mendorong berbagai terobosan untuk menjawab tantangan di lapangan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kolaborasi yang kuat merupakan kunci untuk memastikan inisiatif pembangunan berkelanjutan tetap berjalan, bahkan dalam kondisi krisis.

Chandra Pandjiwibowo, Rainforest Alliancemenegaskan, “kuatnya kolaborasi konsorsium memungkinkan SFITAL tetap berjalan di tengah pandemi COVID-19, sekaligus mendorong berbagai terobosan untuk menjawab keterbatasan.”

Webinar regional yang dilaksanakan oleh IFAD ini juga menjadi penanda penting keberlanjutan pembelajaran lintas negara dan lintas sektor.

“Ketika pembelajaran dibagikan, dampaknya berlipat. Webinar lanjutan SFITAL menjadi ruang untuk mengangkat inovasi, dari agroforestri hingga pembiayaan dan perencanaan pembangunan berkelanjutan,” kata Abdelkarim Sma, IFAD.

Melalui forum ini, SFITAL menegaskan bahwa transformasi sistem komoditas berbasis petani kecil menuju lanskap yang inklusif, tangguh iklim, dan bebas deforestasi hanya dapat dicapai melalui kolaborasi jangka panjang, pembelajaran bersama, dan komitmen lintas aktor. Webinar ini bukan hanya merangkum capaian, tetapi juga membuka ruang dialog untuk melanjutkan kerja bersama menuju masa depan pertanian yang lebih berkelanjutan di kawasan Asia tropis.

Proyek Sustainable Farming in Tropical Asian Landscapes (SFITAL) didukung oleh International Fund for Agricultural Development (IFAD) bekerja sama dengan MARS Inc., Rainforest Alliance, dan Kennemer Foods International, dilaksanakan di Indonesia (Luwu Utara, Sulawesi Selatan serta Labuhanbatu Utara, Sumatra Utara) dan Filipina (Davao de Oro), pada periode 2021–2025.

Mari terus belajar dan berkolaborasi untuk pertanian berkelanjutan di Asia tropis. Dengarkan kembali rekaman webinarnya di: www.agroforestri.id/IFAD-WEBINAR

Share :

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin