Menandai akhir perjalanan kolaborasi yang telah berlangsung hampir tiga tahun sejak September 2022 dalam memperkuat sistem pertanian kelapa sawit yang berkelanjutan; Proyek Sustainable Farming in Tropical Asian Landscapes (SFITAL), program yang dikoordinasikan oleh ICRAF dan didanai oleh International Fund for Agricultural Development (IFAD), bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Utara, menyelenggarakan Lokakarya Evaluasi Hasil Kegiatan SFITAL untuk Pembangunan Kelapa Sawit Berkelanjutan.
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan capaian, mendengarkan masukan dari para pemangku kepentingan, serta menyepakati rencana tindak lanjut setelah program SFITAL berakhir.

“Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Utara menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kontribusi ICRAF bersama para mitra. Kolaborasi ini telah membuka ruang pembelajaran lintas sektor, menghadirkan pendekatan baru yang lebih inklusif, serta mendorong berbagai perubahan positif dalam pengelolaan kebun sawit rakyat (PSR). Penghargaan juga diberikan kepada seluruh OPD, para penyuluh pertanian, dan kelompok tani yang telah berperan aktif dalam Program Peremajaan Sawit Rakyat,” ujar Wakil Bupati Labuhanbatu Utara, Dr. H. Samsul Tanjung, S.T., M.H.
Selama program berlangsung, SFITAL telah mendorong praktik pertanian berkelanjutan melalui penyusunan Rencana Aksi Daerah – Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD-KSB), penguatan kapasitas dan kemitraan tentang agroforestri sawit, Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), demplot dan usaha tani berbasis agroforestri sawit melalui prinsip-prinsip budidaya agroforestri sawit berkelanjutan, serta pengembangan platform pemantauan digital. Seluruh kegiatan ini dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan pemerintah kabupaten, asosiasi, kelompok tani dan sektor swasta yang beroperasi di Kabupaten Labuhanbatu Utara.
“Keberlanjutan produktivitas kelapa sawit bukan bergantung pada ekspansi lahan, melainkan pada peningkatan efisiensi dan hasil melalui penerapan praktik budidaya yang baik (Good Agricultural Practices), sistem PSR, penggunaan benih yang berkualitas, dan pendekatan agroforestri yang ramah lingkungan, dan hal ini telah diterapkan oleh penyuluh dan petani binaan ICRAF,” tambah Samsul.
Diskusi Kelompok Terarah (FGD) menjadi bagian penting dalam agenda lokakarya, yang menghadirkan suara petani, penyuluh, dan pelaku usaha. Mereka berbagi tantangan, harapan, serta aspirasi terhadap penerapan RAD-KSB dalam memperkuat arah pembangunan sawit berkelanjutan.
“Penerapan sistem agroforestri di kebun sawit rakyat memberikan alternatif nyata bagi petani untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan pembangunan kelapa sawit dan pelestarian lingkungan di Labuhanbatu Utara. Upaya ini didukung melalui Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan sebagai strategi pembangunan daerah, serta partisipasi aktif penyuluh dan petani dalam peningkatan kapasitas melalui Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).” tutur Dr. Betha Lusiana, Koordinator Proyek SFITAL Indonesia – CIFOR-ICRAF.
SFITAL menegaskan pentingnya riset-aksi berbasis kolaborasi sebagai pendekatan strategis membangun sistem pertanian sawit yang lebih tangguh, adil, dan adaptif. Serah terima hasil program kepada para pemangku kepentingan menjadi simbol transisi peran ke tingkat lokal.
Dalam kesempatan yang sama, dilakukan serah terima berbagai keluaran SFITAL dan penghargaan kepada para pemangku kepentingan, penyuluh, dan kelompok tani di Kabupaten Labuhanbatu Utara sebagai bentuk apresiasi dan pengakuan atas dedikasi, kontribusi, dan komitmen yang telah diberikan.
Kepala Dinas Pertanian Labuhanbatu Utara, drh. Sudarija menambahkan, “Hasil dari lokakarya ini akan kami bawa ke dalam rencana tindak lanjut dan kesepakatan bersama, sebagai bentuk komitmen keberlanjutan lintas sektor. Ke depan, komitmen bersama yang telah terbangun diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi kelanjutan inovasi, perbaikan tata kelola, dan peningkatan kesejahteraan petani sawit rakyat di Labuhanbatu Utara.”
