Cerita

Menapaki Masa Depan Sawit Berkelanjutan di Labuhanbatu Utara: Cerita dari Seminar SFITAL di Medan

Pada Rabu, 25 Juni 2025, Medan menjadi ruang pertemuan penting bagi para pemangku kepentingan industri kelapa sawit. CIFOR-ICRAF melalui proyek The Sustainable Farming in Tropical Asian Landscapes (SFITAL) menyelenggarakan Seminar Nasional Membangun Sinergi Menuju Perkebunan Kelapa Sawit yang Berkelanjutan dan Berdaya Saing: Pembelajaran dari Kabupaten Labuhanbatu Utara. Seminar ini berlangsung di tengah meningkatnya perhatian nasional dan global terhadap standar keberlanjutan komoditas sawit. Dengan pendekatan ilmiah SFITAL, kegiatan ini bukan hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga ruang untuk menyelaraskan kebijakan, praktik lapangan, dan inovasi teknologi berbasis lanskap demi pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Para undangan yang hadir dari berbagai kalangan, diantaranya pemerintah daerah, akademisi, sektor swasta, dan mitra pembangunan sebagai penggiat kelapa sawit berkelanjutan. Beberapa narasumber ahli pun hadir dalam satu forum dialog yang intensif, yang membahas bagaimana masa depan sawit Indonesia dapat menjadi lebih inklusif, berbasis bukti ilmiah, dan berkelanjutan.

Bagaimana tantangan dan peluang menuju sawit berkelanjutan?

Para peneliti CIFOR-ICRAF telah melakukan berbagai kajian riset dan memaparkan hasil-hasil kajian terkait dinamika penggunaan lahan, deforestasi, produktivitas, hingga peluang intensifikasi sawit. Dengan menekankan pentingnya data dan riset dalam merumuskan kebijakan yang adil bagi petani swadaya.

Dr. Betha Lusiana, Peneliti Senior CIFOR-ICRAF dan Koordinator SFITAL Indonesia menyampaikan bahwa, tansformasi sawit berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang menurunkan jejak lingkungan, tetapi juga memperkuat kapasitas dan peran para petani sawit sebagai aktor utama dalam rantai pasok nasional.

Momentum seminar semakin kuat dengan kehadiran Bupati Labuhanbatu Utara, Dr. H. Hendri Yanto Sitorus, S. E., M.M. Dalam sambutannya, beliau menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memperbaiki tata kelola dan meningkatkan kesejahteraan petani sawit rakyat. Beliau mengungkapkan, “Sumatera Utara adalah salah satu daerah penghasil sawit penting, dan sawit adalah penggerak ekonomi masyarakat kami. Karena itu, keberlanjutannya bukan hanya tentang isu ekonomi, tetapi juga masa depan lingkungan yang sehat untuk generasi penerus di Labuhanbatu Utara.”

Beliau juga menyoroti pentingnya data, pemetaan dan dokumen Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan yang akurat. “Kami membutuhkan riset seperti yang telah dilakukan SFITAL untuk memastikan kebijakan yang kami buat benar-benar tepat sasaran. Tidak boleh ada lagi pengambilan keputusan tanpa data.”

Pernyataan ini mendapat respons positif dari peserta, terutama perwakilan petani dan organisasi lokal yang selama ini menghadapi tantangan legalitas lahan, produktivitas rendah, serta akses pasar yang terbatas. Peserta seminar juga mengapresiasi bagaimana data SFITAL membantu mengidentifikasi area prioritas perbaikan tata kelola, mulai dari peremajaan, pemetaan partisipatif, hingga peningkatan akses petani ke pasar dan layanan.

Selain itu, SFITAL dinilai relevan dalam mendorong diversifikasi tanaman di lahan kebun kelapa sawit melalui penerapan agroforestri sawit. Pendekatan ini membuka peluang bagi petani untuk mengintegrasikan komoditas bernilai ekonomi lainnya, sehingga dapat menambah pendapatan, ketahanan ekonomi rumah tangga, serta fungsi ekologis lanskap. Praktik agroforestri sawit juga dipandang sebagai solusi strategis untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu komoditas, sekaligus mendukung keberlanjutan produksi dan perlindungan lingkungan.

Menguatkan Kemitraan dan Peran Petani

Dalam sesi dialog membahas model-model kemitraan inovatif antara perusahaan, petani, dan pemerintah. Salah satu pembicara dari sektor swasta menyampaikan, bahwa petani adalah mitra, bukan sekadar pemasok. Keberlanjutan hanya mungkin terjadi jika kemitraan dibangun setara dan saling menguntungkan. Diskusi ini semakin menegaskan bahwa keberlanjutan bukan hanya standar teknis, tetapi juga kerja ama erat dan transformasi relasi antaraktor di lapangan. Pentingnya dilakukan pendekatan sosial kepada masyarakat dan petani, karena isu kelapa sawit bukan hanya teknik budidaya; namun juga tentang hak, akses, dan kesejahteraan. Pendekatan human-centered harus tetap menjadi prioritas.

Salah satu highlight seminar adalah demonstrasi penggunaan alat pemodelan dan pemetaan untuk mengetahui potensi produktivitas dan peta risiko deforestasi. Pendekatan berbasis riset ini diyakini mampu menjadi terobosan dalam perbaikan tata kelola sawit di tingkat kabupaten. Arga Pandiwijaya, peneliti CIFOR-ICRAF menegaskan, “Riset menyediakan data dan bukti. Tetapi keputusan yang baik membutuhkan keberanian untuk berubah, dan ini bisa dilakukan berkolaborasi bersama pemerintah serta seluruh pihak di lapangan.”

Menuju sawit yang lebih inklusif dan tangguh

Seminar ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat rantai nilai sawit yang inklusif, dan bersepakat bahwa keberlanjutan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Bupati Labuhanbatu Utara menutup dengan pesan kuat, “Kami ingin membuktikan bahwa sawit Indonesia dapat maju tanpa meninggalkan lingkungan dan masyarakatnya. Ini perjalanan panjang, tetapi kita harus mulai dari sekarang.”

Seminar di Medan menjadi salah satu jejak kolaborasi penting, sebuah pengingat bahwa masa depan sawit Indonesia dibangun melalui pengetahuan, kemitraan, dan komitmen bersama.

Share :

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin